Wisdom Tukang Becak
Dunia ini berbentuk seperti puzzle raksasa. Dimana puzzle ini dibangun dari triliunan anak puzzle, bahkan tak terhingga anak puzzle. Dan sebenarnyalah anak puzzle-anak puzzle itu juga merupakan sebuah dunia lagi yang hidup.Dunia di dalam dunia. Dunia masing-masing anak puzzle itu memiliki sebuah keyword atau kata kunci untuk menyelaminya. Analog lainnya adalah dunia ini bagaikan sebuah perpustakaan yang sangat luas, yang mempunyai tak terhingga buku-buku. Dan tiap buku itu mempunyai judul. Judul itu mewakili isi dari buku itu. Kata lainnya judul itu adalah sebuah keyword atau kata kunci. Dus dunia terbangun dari tak terhingga banyaknya kata kunci yang akan membuka tak terhingga dunia khazanah kita.
Suatu saat kami bertugas mengadakan pelatihan di sebuah perusahaan swasta yang suangat gede, di sebuah kota kecil di jawa timur. Perusahaan ini adalah sebuah kerajaan bisnis, yang memiliki sebuah dunia kerajaan dalam sistem sosialnya.
Kami mendapat tugas (ujian) untuk mengembalikan misi rakyat kerajaan kepada misi spiritualitas. Sedangkan yang terjadi adalah bangunan spiritualitas perusahaan, yang dibangun dari punishment and honour, yang menurut pandangan saya … materialistik.
Alih-alih kami mengadakan pelatihan, kembali kamilah objek pelatihan itu. Dan merekalah subjeknya.
Berat bagi kami, tim “keyword”, untuk menterjemahkan filosofi dari pelatihan kali ini. Dalam waktu yang relatif singkat, 3 jam, kami harus mencapai sebuah kesepakatan sosial mengenai kemana arah spiritualitas ini. Alhamdulillah, atas saran dari salah satu anggota tim keyword, dipakailah kata kunci wisdom tukang becak.
Sebuah kearifan yang sangat universal, bahwa kearifan seorang tukang becak adalah untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarganya, dan itu adalah ibadah. Tentunya, jika tukang becak ini, mengayuh becak terus, sementara ia tidak mendapatkan nafkah, yang protes adalah perut anak-anaknya, guru di sekolah anaknya karena belum bayar uang spp atau uang buku, mungkin bu erte juga mengingatkan ibunya untuk datang arisan, karena sudah sekian bulan tidak datang arisan karena malu belum melunasi utang pada bendahara arisan erte. Nampaknya ini musykil, namun begitulah akar dari sebuah wisdom tukang becak. Pejuang bagi keluarganya. Bagi martabatnya, bagi harga dirinya sebagai manusia. Sehingga Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya, bayarlah upah buruh sebelum kering keringatnya, mengapa? Karena memang begitulah wisdom tukang becak yang mewakili status sosial kelas bawah.
Namun, yang perlu kita pelajari, dibalik itu wisdom tukang becak tidak mengenal kata serakah. Sama ketika kami berada di jogja, membeli bambu, dari pembayaran uang bambu dikembalikan sebagian kepada kami lagi, yang mereka katakan sebagai ikut berpartisipasi dalam perjuangan para seniman. ( ada dalam kisah lain “begawan dari belantara”). Coba kita bayangkan seorang penjual bambu yang memiliki wisdom untuk ikut berjuang bersama para seniman, itu hanya menunjukkan mereka tulus, ikhls dan tidak serakah.
Kembali kepada peperangan baratayudha, wisdom para ningrat dengan wisdom para tukang becak. Yang satu sangat “ndakik-ndakik”, yang satu sangat sederhana. Yang ndakik-ndakik itu rumit, beretorika tinggi, namun sarat dengan opportunis dan materialis. Sedang yang satu walaupun sederhana namun tidak serakah, ikhlas, sabar dan sadar. Bukankah kita harus selalu eling lan waspada, seperti tembang Ki Ronggo Warsito?
Dan mustinya kita perlu belajar kepada lebah, yang salng memberi makan, melayani, melindungi dan mengasihi di dalam koloninya.
LEBAH SALING MEMBERI MAKAN DALAM SARANGNYA
